Siapa Anak Didik Kita? (2-Habis)

Siapa Anak Didik Kita? (2-Habis)

Opini

Siapa Anak Didik Kita? (2-Habis)

Selasa 16 Safar 1436 / 9 December 2014 14:40

tumpukan buku

MANUSIA yang baik adalah ia yang menyadari kemanusiaan dirinya. Ia mengenali dirinya sendiri dan mengerti tujuan di balik penciptaannya. Ia tidak berobsesi menjadi orang lain. Ia tidak ingin menjadi Habibie, Enstein, Michael Jordan, atau pun Justin Beiber. Sebab sebagaimana potensinya, ia memiliki desainnya sendiri. Dan seorang pendidik haruslah dapat mengarahkan tujuan muridnya dalam mencari ilmu yakni untuk mengenal dirinya. Pendidik yang mengerti siapa anak didiknya tidak akan menjadikan materi sebagai motivasi bagi muridnya untuk belajar. Atau memborbardir mereka dengan dorongan untuk mengambil jurusan favorit saat lulus sekolah menengah. Atau mengarahkan mereka untuk mengambil jurusan yang memudahkan mereka mencari pekerjaan kelak. Tidak demikian, pendidik yang mengerti siapa anak didiknya akan mengarahkan mereka untuk memilih sesuatu yang tepat sesuai potensi muridnya. Tidak peduli apakah pilihan itu populer atau tidak, berpotensi menghasilkan banyak uang atau tidak. Semua demi mengarahkan muridnya untuk lebih dekat dengan dirinya sendiri.

Dalam situasi belajar, terkadang seorang pendidik bahkan perlu menyembunyikan pengetahuan tertentu jika muridnya dirasa tidak memiliki persiapan atau pun potensi yang memadai untuk menyerap ilmu itu. Ia tidak akan memaksakan pengajarannya diserap sementara muridnya tidak memiliki kesiapan akal dan spiritual untuk itu. Dan karena itu pula ia tidak akan buru-buru memberi cap bodoh atau sejenisnya. Tentang hal ini kearifan Imam Al-Ghazali ada baiknya untuk kita perhatikan. Sang Hujjatul Islam konon membagi bukunya ke dalam beberapa kategori berdasarkan potensi pembacanya. Ada kitab-kitab tertentu yang diperuntukkan untuk mereka yang awam sementara kitab lainnya diperuntukkan bagi orang-orang khusus, yakni mereka yang telah memiliki persiapan akal yang lebih baik. Begitu pula bagi kalangan khusus dari yang khusus, mereka memiliki jatah kitabnya sendiri, dikarenakan persiapan akal dan spiritualnya sudah melampaui orang-orang dari kategori khusus. Maka dalam akhir bab pertama Misykat Al-Anwar Al-Ghazali berpesan bagi siapa pun yang tidak mampu memahami uraiannya pada bab tersebut agar berhenti melanjutkan membaca kitabnya itu. Ia menyarankan pembacanya yang tidak mampu memahami untuk belajar hal lain saja. “Tiap ilmu ada orangnya,” kata Al-Ghazali sembari mengutip hadist Rasulullah SAW, “Setiap orang dimudahkan melakukan sesuatu yang untuknya ia diciptakan,”(HR. Muslim). Albert Einstein punya kalimat sendiri tentang hal ini, “Setiap anak terlahir jenius. Tapi jika Anda memaksa seekor ikan untuk memanjat pohon, ikan itu akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk berpikir bahwa dirinya bodoh.”

Gunting kuku dan kapak keduanya sama-sama alat potong tapi bukan berarti dapat saling menggantikan dalam penggunaannya. Jika kapak kita gunakan untuk memotong kuku, yang terjadi mungkin adalah bencana. Begitu pula jika kita gunakan gunting kuku untuk menebang sebuah pohon, yang terjadi kita akan kepayahan. Sebab desain keduanya berbeda. Tujuan diciptakan keduanya berbeda. Sama halnya dengan potensi kita. Begitu pula anak didik kita.

Lantas, siapa sesungguhnya anak didik kita? Pertanyaan ini mungkin tidak dapat dijawab hanya dengan keterangan semata. Ia harus dijawab dengan kata kerja, ‘Mengenali.’ Kenalilah anak didik kita. Sapalah namanya. Tataplah matanya. Lihatlah hingga kedalam dirinya. Gunakanlah kalbu untuk menyapa kalbunya. Gali potensinya. Sadari keberadaannya. Dengarkan keluhannya. Ajaklah ia untuk mengenal Tuhannya dengan menggali siapa dirinya. Dan yakinkan diri bahwa anak didik kita adalah kreasi sempurna dan bagian dari rencanaNya Yang Maha Indah. []

Redaktur: Rika Rahmawati

« Siapa Anak Didik Kita? (1)



Sumber: http://www.islampos.com/siapa-anak-didik-kita-2-habis-151028/