
KEJAYAAN peradaban Islam bukanlah dalam bentuk bangunan megah, melainkan dalam bentuk tradisi ilmu. Dengan ilmu inilah Islam mengangkat harkat dan martabat masyarakat jazirah arab yang tadinya terisolir dan sibuk dengan dirinya sendiri. Islam menghapuskan kejahilan dan menggantinya dengan kecintaan terhadap ilmu, sehingga peradaban Islam telah melahirkan tradisi ilmu di kalangan masyarakat Arab hingga meluas ke wilayah Afrika serta sebagian Eropa.
Itulah sebagian dari yang disampaikan oleh Akmal Sjafril, M.Pd.I. dalam perkuliahan terakhir Sekolah Pemikiran Islam (SPI) #IndonesiaTanpaJIL yang mengambil tema âThe Golden Age of Islamâ. Kuliah ini digelar di Aula Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis lalu (27/11/2014).
Dalam perkuliahan yang dihadiri para perwakilan aktivis dakwah yang berbasis kampus serta chapter #IndonesiaTanpaJIL itu Akmal memaparkan kemunduran peradaban Islam sekarang diakibatkan karena umat Muslim sekarang ini tidak mencontoh tradisi ilmu generasi pendahulunya yang pernah menggapai kejayaan peradaban Islam.
âPerkembangan Islam pada masa lalu dikarenakan perkembangan keilmuan Islam yang tak pernah berhenti. Arab yang dahulu penuh dengan kejahilan dan takhayul mampu menjadi dominan di antara bangsa-bangsa lain. Bahkan ekspansi yang dilakukan oleh Daulah âUmayyah dan âAbbasiyyah dahulu membuat Islam mampu menaklukkan Persia hingga Eropa,â ujarnya.
Kejayaan Islam yang dicapai pada masa itu dipicu oleh satu kitab yang sangat fenomenal dan luar biasa pengaruhnya untuk menyulut semangat umat Muslim. Kitab tersebut ialah Al-Qurâan. âAl-Qurâan menjadi satu-satunya bacaan ilmiah bagi masyarakat Arab yang tidak ada habis-habisnya dibahas. Setiap ayat bisa ditelaah dari berbagai segi, dan setiap penelaahannya menambah dalam pemahaman orang terhadap kandungannya. Al-Qurâan praktis mengakhiri era jahiliyyah bangsa Arab,â ungkap Ketua Divisi Litbang ITJ Pusat ini.
Ketika Islam sedang memasuki masa keemasannya, Eropa justru sedang mengalami The Dark Age atau jaman kegelapan nyaris 1.000 tahun lamanya. âJaman kegelapan di Barat ini berawal dari keruntuhan Romawi Barat, yang diikuti dengan perang yang berkepanjangan. Perang tersebut mengakibatkan masyarakat urban berpindah ke daerah pedalaman dengan fasilitas sangat terbatas dan kualitas hidup yang buruk,â ujar Akmal.
Bahkan, saking buruknya kualitas hidup pada tahun 1347-1350, sepertiga populasi eropa terbunuh akibat wabah. âWabah ini dibawa oleh orang-orang Eropa yang berdagang ke Asia dan Afrika melalui perantara tikus. Pada periode ini jugalah Gereja menghegemoni di Barat, diikuti oleh inkuisisi yang sangat tidak manusiawi. Pada akhirnya, dengan meruntuhkan hegemoni Gereja itulah Eropa baru bisa mencapai zaman pencerahan atau ârenaissanceâ,â kata Akmal lagi.
Dalam pemaparannya, Akmal juga menyebut beberapa tokoh serta ilmuwan yang berkontribusi dalam mengangkat peradaban Islam sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing. Nizam al-Mulk, sahabat al-Ghazali, membangun madrasah ke seluruh wilayah Islam sehingga tak ada satupun desa yang tidak memiliki madrasah. Shalahuddin al-Ayyubi pun tercatat membangun lima perguruan tinggi di Kairo. Di bidang astronomi ada Maryam al-Ijliya, Abu Rayhan al-Biruni dan sebagainya. Dengan berbekal aqidah yang lurus, ilmuwan-ilmuwan Muslim sejak dulu sudah memisahkan antara astronomi dan astrologi. Di bidang lainnya, seperti rekayasa teknik, kesehatan, peradaban Islam-lah mampu menjadi pionir, sehingga gaya hidup masyarakat Muslim pun kemudian ditiru oleh bangsa-bangsa Barat.
Diakhir perkuliahannya Akmal menyimpulkan bahwa peradaban Islam dibangun dengan ilmu, dan bermula dari tauhid. âDari tauhid itulah kita berpijak dan menjelaskan hakikat hidup manusia yang sesungguhnya. Seorang Muslim mencintai ilmu atau âilm karena jiwanya ingin mengenal Allah atau Al-âAliim. Peradaban berbasis ilmu inilah yang mampu berjaya dan memberikan pencerahan kepada dunia. Jika kita tidak membangkitkan kembali tradisi ilmu ini, maka tak mungkin kita mampu mengembalikan kejayaan Islam,â pungkasnya. [Adif Widhianto Fauzi/islampos]
Redaktur: Saad SaefullahSumber: http://www.islampos.com/sekolah-pemikiran-islam-kejayaan-islam-hanya-bisa-dikembalikan-dengan-ilmu-149855/